Faisal Rahadian, Ketua Umum Jejaring Mikrohidro Indonesia : “Turbin Made In Indonesia Paling Maju di Asia Tenggara”

Komunitas Jaringan Mikrohidro  Indonesia (JMI) baru saja mengadakan pertemuan tahunan di Hotel Aston Bandung, Jawa Barat. Workshop dan JMI Gathering ini tepatnya berlangsung pada Selasa, 20 Desember 2011 yang diikuti oleh sekitar 60-an anggota JMI dari total anggota 560 orang. Pertemuan yang mendapat sponsor International Copper Association ICA-SEA ini adalah pertemuan yang keempat. Pertemuan sebelumnya berturut-turut dilakukan di Jogjakarta, yang kedua di Jatinangor, yang ketiga di Lembang, dan keempat di Bandung. 
Ketua Umum JMI Faisal Rahadian menegaskan bahwa dalam satu tahun ke depan pihaknya akan membentuk panitia ad hoc JMI di daerah-daerah sebagai pelaksana kegiatan JMI. Pembentukan panitia ini merupakan usulan yang diusung oleh anggota dari berbagai daerah. Kegiatan ini kelak dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan baik dari steering committeeJMI, pengurus, maupun pihak sponsor yang akan men-support kegiatan tersebut.
Faisal mengaku sangat optimistis bahwa pengembangan mikrohidro di Indonesia bakal maju pesat. Setidaknya ini bisa diukur dari jumlah anggota JMI yang terus bertambah setiap tahun. Dengan semakin banyaknya anggota JMI, maka kesempatan untuk bertukar pikiran semakin luas. “Ini modal bagus untuk pengembangan mikrohidro di Indonesia,” katanya.
Apresiasi yang mendalam dari para peserta atas penyelenggaraan acara ini merupakan dorongan tersendiri dalam mengembangkan teknologi mikrohido di Indoneia. Tak kalah penting, kata Faisal adalah dukungan dari steering commitee JMI dan kerjasama serta kekompakan para pengurus JMI.
Namun, diakui juga bahwa pengembangan listrik tenaga mikro hidro bukan tanpa kendala. Banyaknya hutan gundul dan semakin menipisnya debit air, menjadi catatan sendiri dalam pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro. Toh, Faisal punya keyakinan bahwa keberlangsungan mikro hidro, salah satunya ditentukan oleh bagaimana kita bisa menjagacatchment area, bagaimana kita bisa menjaga area resapan, bagaimana kita bisa mengonservasi daerah hulu sungai. Itu penting sekali sekaligus menjadi pembelajaran. Konservasi menjadi hal yang penting karena keberlangsungan mikro hidro itu tidak terletak pada keberlangsungan air. Pada saat yang bersamaan kita bisa memberikan pembelajaran ke masyarakat, ini ada mikro hidro mengalirkan listrik untuk desa, dengan catatan listrik menyala selama air mengalir. Agar air mengalir maka kawasan hulu /catchment area  harus dijaga.
Yang juga lebih membanggakan adalah semakin banyak turbin produksi Indonesia yang diekspor ke luar negeri. Tubrin-turbin air yang dipakai di  Malaysia dan Filipina, banyak yang merupakan buatan anak Indonesia. Berikut petikan wawancara Faisal Rahadian dengan Sri Widodo Soetardjowijono dari GEO ENERGI di Bandung beberapa waktu lalu. Petikannya:
Apa saja yang anggota JMI dapatkan dari jaringan ini?
Pertama, kita ingin menyebarluaskan informasi terkait dengan pengembangan mikro hidro, baik yang teknik maupun non-teknik. Yang kedua, pertukaran informasi. Yang namanya mikro hidro, satu lokasi dengan lokasi lainnya berbeda, unik sekali. Ada pembedaan antara satu lokasi dengan lokasi yang lain. Dengan adanya pertemuan seperti  ini, maka terjadi pertukaran pengalaman,experience sharing. Itu yang penting sebenarnya. Yang ketiga, ini semacam forum untuk konsolidasi, karena latar belakang dari masing-masing anggota yang berbeda, tidak seperti asosiasi profesi yang latar belakangnya sama. Tetapi kalau jejaring mikro hidro, walaupun semua anggotanya sama-sama memiliki kegiatan dan ketertarikan di bidang mikro hidro, tapi latar belakangnya berbeda.
Jadi, ada pelaku mikro-hidronya ya?
Iya ada pelaku dari berbagai profesi. Misalkan manufaktur, produksi pembuatan turbin, kalau dalam istilah kementrian ESDM disebut sebagai  industri penunjang. Sementara kalau yang jual listrik ke PLN melalui skema interkoneksi,  disebut sebagai usaha intinya. Kemudian pelaku lainnya, ada kontraktor yang kerjanya melakukan pembangunan fisik. Ada juga yang masih dari kalangan pelaku adalah tenaga ahli  yang melakukan perancangan.
Adakah yang sudah sukses menciptakan pembangkit listrik tenaga mikro hidro?
Yang namanya pembangkit listrik mikro hidro, itu bukan teknologi baru. Jadi, masuk ke dalam kategori energi  terbarukan tapi bukan energi baru. Di Jawa sendiri sudah diimplementasikan sejak jaman Hindia Belanda, sudah lama sekali. Bahkan, masih ditemukan pembangkit yang berumur 100 tahun dan masih berjalan. Jadi, bukan sebuah penemuanbaru. Ini berdasar fluid mechanic yang klasik, jadi, basic science-nya juga klasik,diantaranya  hukum Bernoulli dan hukum -hukum Kekekalan Energi.  Jadi mikrohidro bukan sebuah penemuan fenomenal di abad 21.
Apa ukuran keberhasilan pengembangan mikro hidro ini?
Tingkat keberhasilan implementasi ditentukan setidaknya oleh tiga hal, pertama perencanaan yang akurat, kedua pembangunan yang tepat,  dan ketiga kelembagaan yang berkelanjutan. Karena begini, lokasi mikro hidro itu biasanya  terisolir, Kita bicara natural resources yang adanya di-remote area, sulit untuk mengelolanya  tanpa melibatkan masyarakat setempat sebagai operator dan pengelola. Salah satu kunci suksesnya yang ketiga adalah kelembagaan, ini penting sekali.
Jadi kalau seandainya ada sekelompok masyarakat yang ingin mengembangkan mikro hidro untuk mendapatkan listrik, apa yang harus mereka dilakukan?
Pertama, melakukan identifikasi lokasi, cukup survey dua parameter saja. Debit dan head. Dari data tersebut bisa diajukan, pertama ke pemerintah daerah, karena listrik sudah menjadigovernment obligation, kewajiban pemerintah daerah dan pemerintah pusat untuk menyediakan listrik bagi masyarakat. Yang kedua, bisa ke beberapa funding agency yang memiliki program terkait energi terbarukan atau green energy.
Misalnya apa saja?
Misalnya green environment facility (GEF) atau PNPM (Pemberdayaan Nasional Masyarakat Pembangunan) Mandiri, mereka di-support  oleh banyak funding..  Itu altrenatif kedua. Alternatif yang ketiga diajukan langsung ke pusat, ke Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dalam hal ini adalah Direktorat Jenderal EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi). Nanti dari sana akan dipilih mana lokasi yang kira-kira layak menurut kriteria teknis dan non-teknis. Kemudian akan dilakukan studi, bukan oleh hanya oleh kelompok masyarakat  masyarakat, tapi juga dilakukan  oleh para tenaga ahli. Anggarannya bisa dari APBN, APBD atau anggaran CSR (Corporate Social Responsibility)
 
Kalau soal debit air, berapa minimal untuk menggerakkan turbin?
Debit itu berkolerasi dengan head.  Kita tidak bisa mengatakan debit minimal 1 kubik, karena kita harus mengidentifikasi head yang ada berapa meter. Tapi biasanya secara pengalaman, debit 150 liter per detik sampai 1 meter kubik per detik, pada head yang tersedia 6 - 40 meter, itu sudah mencukupi. Tentu saja dengan variasi dari angka debit dan head tersebut.
Debit itu harus konstan ya, kalau ada naik turun,  bagaimana?

Begini Pak, ada beberapa jenis turbin yang sensitif terhadap fluktuasi debit. Contohnya adalah Propeller Turbine, apabila debit designnya 1 kubik, kemudian pada musim kering katakanlah drop sampai 60%,  itu sudah out of operation. Tapi, ada juga jenis lain, turbin cross flow yang masih dapat beroperasi dengan cukup baik pada debit di bawah 50%. Tapi pemilihan turbin itu bukan berdasarkan dari preferensi teknik, tapi dari kondisi availabilitas debit dan head. Jadi, ada diagram pemilihan turbin, kita tidak bisa memesan atau membuat turbin begitu saja tanpa memperhatikan head dan debit.

Berapa harga turbin yang paling murah?
Secara  empiris, rata-rata biaya pembangunan mikro hidro di Indonesia itu Rp 39 juta per kilo watt, Dengan sampling lokasi yang di Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. Jadi,  Rp 39juta per kilo watt itu bukan hanya turbin tapi mikro hidro yang terdiri dari civil works, electrical-mechanical equipment dan jaringan distribusi serta instalasi rumah. Adapun standar biaya pembangunan mikrohidro di Indonesia  yang  dikeluarkan oleh Bank Dunia memang range-nya agak luas, USD 1.500 - 4.500 per KW. Jadi, rata-rata nasional kita masuk ke dalam range tersebut.
Kalau di-persentase-kan, berapa persen yang sudah bisa memanfaatkan mikro hidro?
Banyak sekali, terutama di desa-desa.
Apakah pemanfaatannya baru sebatas penerangan jalan dan penerangan rumah?
Ini yang menarik, betul penerangan fasilitas umum dan rumah-rumah adalah prioritas. Tetapi sekarang sudah dimulai pemanfaatan mikro hidro untuk kegiatan ekonomi produktif. Misalnya untuk menggiling padi, mengolah hasil bumi,  Pengolahan makanan,  atau kegiatan produktif lainnya untuk memperoleh nilai tambah yang tinggi dengan menggunakan listrik.
Mikro hidro itu harus berada di posisi yang sungai-sungainya memiliki air terjun?
Tidak harus air terjun, yang penting itu beda tinggi atau head. Memang, air terjun menjadi ciri yang menandakan ada potensi, tapi tidak harus terjunan itu  kasat mata. Kita membuat rekayasa hidrolika yang mana kita tetap memperoleh head memadai, tanpa harus selalu ada air terjun.
Apa target dari pertemuan JMI keempat ini?
Target pertama, adopsi teknologi mikro hidro yang sesuai dengan alam dan kondisi Indonesia. Teknologi mikro hidro itu kan banyak dan beragam, Kita harus mampu mengembangkan sendiri teknologi yang sesuai dengan kebutuhan kita. Yang kedua, kita bisa menyampaikan pengetahuan dan informasi  kepada rekan-rekan di daerah. Karena yang hadir dalam acara workshop JMI ini bukan hanya peserta dari Bandung atau Jakarta saja tapi juga dari Luar Jawa.
Apakah di Indonesia sudah ada yang bisa memproduksi turbin air skala kecil?
Kalau kita bicara soal manufaktur turbin air, Indonesia yang paling maju di Asia Tenggara.. Kalau kita lihat di Pilipina atau negara asia tenggara lainnya ada program kelistrikan, banyak turbinnya made in Indonesia. Kemudian di Sabah atau Serawak ada program pelistrikkan desa pemerintah Malaysia, itu turbinnya juga  made in Indonesia. Indonesia secara tidak resmi sudah menjadi tempat pembelajaran mikro hidro bagi beberapa negara Asia dan Afrika. Mereka datang ke Indonesia untuk belajar tentang mikrohidro dan belajar bagaimana cara membuat turbin air skala kecil.
Apakah aktivitas organisasi ini sebatas milis?
Mailing List  hanya salah satu alat untuk komunikasi. Dalam mengadakan kegiatan kita coba lakukan berdasarkan sponsorship. Kalau kita bicara mikro hidro, artinya kita  kita bicara tiga hal, pertama renewable energy, kedua TKDN (tingkat Kandungan Dalam Negeri) , ketiga kita bicara,pengembangan masyarakat.  Apabila kita bicara tiga hal itu, tentu banyak pihak yang tertarik. Pemerintah dan Program CSR tentu tertarik, PNPM tentu juga tertarik, lembaga-lembaga donor yang bergerak di bidang lingkungan tentu tertarik untuk mensupport.
Bagaimana mikrohidro ini bisa survive di tengah perubahan iklim, debit air yang semakin berkurang, dan  hutan gundul. Apakah masih menjanjikan?
Seperti sudah disampaikan sebelumnya bahwa keberlangsungan mikro hidro salah satunya ditentukan oleh bagaimana kita bisa menjaga catchment area, bagaimana kita bisa menjaga area resapan, bagaimana kita bisa mengkonservasi dareah hulu sungai. Itu penting sekali dan juga sekaligus menjadi pembelajaran bagi masyarakat. Konservasi menjadi hal yang penting karena keberlangsungan mikro hidro itu terletak pada kontinuitas air.

Sumber : Milis JMI


Comments