Home‎ > ‎Topik‎ > ‎Lingkungan (Environment)‎ > ‎Apotek Hidup‎ > ‎Referensi‎ > ‎Kliping Artikel‎ > ‎

Ciptakan Apotek Hidup di Sekolah

Menjaga dan melestarikan lingkungan hidup sebenarnya merupakan hal yang sederhana karena alam telah mengajarkan hal itu. Asal kita harmonis dengan alam, tidak mengeksploitasi, kita sudah bersahabat dengan alam. Itu merupakan upaya pelestarian.

Bentuk persahabatan antara manusia dengan alam misalnya terlihat dalam penciptaan apotek hidup. Sudah cukup lama seruan itu disampaikan dengan gencar. Ada yang berhasil karena dibarengi dengan tindakan nyata. Diciptakan lahan untuk penanaman obat-obatan, kemudian disertakan dalam program PKK, sehingga lebih cepat meluas.

Itu yang seharusnya terjadi. Sayangnya, banyak di antara program itu kurang dibarengi dengan kesadaran yang sungguh-sungguh ingin bersahabat dengan alam dalam hubungan mutualistis. Lahan apotek hidup masih berhenti pada lahan, belum sampai pada tingkat untuk mengupayakan agar tanaman obat itu benar-benar digunakan.

Untuk sampai mengantar pada pemanfaatan tanaman obat memang bukan langkah yang mudah. Penanaman apotek hidup perlu dibarengi dengan program pembuatan atau cara peracikan dari tanaman itu. Juga khasiat tanaman itu sampai menjadi obat.

Selain itu, pemanfaatan tanaman obat perlu juga dibarengi dengan program yang mampu mengubah pola hidup masyarakat. Perlu kita pahami bersama, upaya untuk menjalin persahabatan dengan alam tentu butuh perjuangan. Sementara berbagai macam iklan menggembar-gemborkan cara hidup yang praktis dan efisien. Pola hidup praktis dan efisien itu mewarnai cara hidup kita. Padahal, bersahabat dengan alam bukanlah pola hidup praktis, namun pola hidup yang mau mengolah dan memberdayakan. Akibatnya, begitu ada anggota keluarga yang sakit, kita langsung mencari obat buatan pabrik, bukannya meracik tanaman obat.

Masyarakat modern cenderung berpikir ilmiah. Terhadap apotek hidup pun orang tidak lepas dari pola pikir itu. Mengapa daun pepaya bisa menyembuhkan batuk, mengapa jeruk nipis juga bisa menyembuhkan batuk, dan sebagainya. Artinya, masyarakat baru akan tersugesti manakala bisa menerima penjelasan ilmiah di balik fakta itu.

Dengan mempertimbangkan hal di atas, saya melihat, program apotek hidup tepat diterapkan di sekolah SMK/SMU. Sebab dari aspek pengetahuan, murid setingkat SMK/SMU sudah cukup luas, lebih punya kecenderungan berpikir ilmiah. Akibatnya mereka lebih suka mengadakan penelitian. Di samping itu, di sekolah setingkat itu kebanyakan telah ada laboratorium untuk praktik ilmiah. Dengan demikian, pemanfaatan apotek hidup secara ilmiah juga dapat dilakukan karena sasarannya juga masyarakat ilmiah.

Di dalam upaya melakukan itu semua, diperlukan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Penanaman pohon untuk bahan apotek hidup dilakukan di halaman sekolah dan pemeliharaannya dilakukan oleh siswa dengan pengawasan dan bimbingan guru yang tahu soal itu.

  2. Upaya pemanfaatan apotek hidup secara nyata, hal ini melalui:

    • Pengoptimalan fungsi laboratorium sekolah untuk tempat penelitian, praktik peracikan atau pembuatan obat dari tanaman obat atau apotek hidup.

    • Pemanfaatan secara nyata obat-obatan buatan siswa untuk kesembuhan siswa yang sakit di UKS.

    • Lambat laun, obat-obatan dari pabrik diganti dengan obat-obatan buatan siswa.

  3. Tindakan itu harus dilakukan terus-menerus dan menggenerasi dengan baik, sehingga keahlian menanam, memelihara, meracik tanaman menjadi obat bisa dilakukan semua siswa.

  4. Tidak menutup kemungkinan produksi obat buatan siswa juga diorientasikan untuk dijual di masyarakat.

  5. Untuk itu semua perlu dijalin kerja sama dengan para pakar tanaman obat dan pabrik jamu. (Simon Sudarman)

dari : indomedia.com/intisari/2001/Juli

Sumber : http://anekaplanta.wordpress.com/2008/02/29/ciptakan-apotek-hidup-di-sekolah/


Comments