Di Bogor Ada Bank Sampah

BOGOR (Pos Kota) – Bank sampah ! Mungkin mendengar ini Anda tidak akan percaya. Sebab, jika mendengar nama bank, selama ini identik urusannya dengan uang.

Tapi di Kota Bogor ada Bank Sampah dan siap menerima setoran sampah.  Bank Sampah mulai dikembangkan di Sekolah Alam Jalan Pangeran Ashogiri Tanah Baru Kecamatan Bogor Utara Kota Bogor.

Bank Sampah, nasabahnya adalah ratusan siswa sekolah tersebut. Setiap hari mereka menyetorkan sampah ke bank sampah yang dibawanya dari rumah. Sampah–sampah yang disetorkan beragam.

Setiap menyetorkan sampah, siswa mendapat coin yang telah disiapkan oleh penanggung jawab Bank Sampah. Coin ini nantiyang didapatkan oleh para siswa setiap bulan ditukarkan dengan uang.
“Uang yang didampatkan siswa akan berbeda nilainya sebab harga jenis sampah berbeda,“ ujar Direktur Sekolah Alam Bogor, Agus Gusnul Yakin usai acara peluncuran Bank Sampah  oleh Staf Ahli Walikota Bogor Bidang Hukum dan Politik Rafinus Syukri.

Agus  menjelaskan, harga sampah yang diterima oleh Bank Sampah ada nilai kursnya, sehingga besaran uang yang diterima siswa setiap bulannya tidak sama nilainya. “Misalnya, harga bekas kemasan minuman, nilainya kursnya akan berbeda dengan harga kertas koran, “ ujar Agus.

Menurut Agus, Bank Sampah yang dibangun di Sekolah Alam Bogor untuk membiasakan  siswa tidak membuang sampah sembarangan. Sampah yang disetorkan dimanfaatkan antara lain untuk membuat tas sekolah, kantong, untuk bahan pembelajaran di sekolah dan sebagian lagi dijual ke pengumpul sampah. “ Nasabah Bank Sampah di Sekolah Alam tercatat ada 400 siswa mulai dari TK sampai kelas 6 SD, “ jelas Agus.

Kusna, pembina Yayasan Sekolah Alam Bogor, mengatakan  pembangunan bank sampah  di sekolah alam Bogor merupakan bagian dari upaya  memberikan kontribusi besar dari masyarakat Kota Bogor mengatasi persoalan sampah,“ Proses pengelolaan sampah harus dimulai dari membangun anak didik membiasakan untuk tidak membuang sampah sembarangan, “ kata Kusnan.

Selain itu, kata dia, anak didik juga diajarkan untuk memilah-milah sampah, baik sampah basah maupun sampah kering, untuk selanjutnya dikumpulkan dan dibawa ke sekolah sebagian dijadikan bahan pembelajaran, dan karya seni, dan sisanya yang tidak terpakai dijual kepada pengumpul sampah.

Kusnan menyebutkan, proses pembinaan sampah di sekolah bisa diperluas lagi sehingga diharapkan bisa menyelesaikan sebagian permasalahan sampah di Kota Bogor. “Bisa dibayangkan seandainya semua sekolah di Kota Bogor membangun gerakan yang sama, setiap anak didik membiasakan memilah sampah di rumah dan membawanya ke sekolah untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembelajaran dan sebagian lagi dijual, Insya Allah permasalahan sampah di Kota Bogor akan terselesaikan, “ ungkapnya.

Oleh karena itu lanjut Kusnan, pihaknya telah berkerjasama dengan Disdikpora dalam kerangka pengembangan sekolah hijau. “MoU (Memorandum Of Understanding) telah ditandatangani, dan Insya Allah model sekolah hijau akan dikembangkan di seluruh sekolah yang ada di Kota Bogor, “ kata Kusnan.

Staf ahli Walikota Bogor Bidang Hukum dan Politik Rafinus Syukri yang mewakili walikota Bogor mengakui, bahwa masalah sampah di kota Bogor cukup kompleks. Ini antara lain tergambar dari terus meningkatnya jumlah sampah. Sebagai gambaran tahun 2009 jumlah timbunan sampah 2.294 meter kubik per hari atau naik sebesar 3,13 persen dibandingkan kondisi tahun 2008 yang mencapai 2.224 meter kubik per hari.

Dari jumlah timbunan sampah itu pemerintah Pemerintah Kota Bogor melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang harus mampu mengangkut 1.602 meter kubik per hari atau baru mencapai 69,83 persen dari total timbunan sampah per hari.

Melihat kondisi ini, lanjut Rafinus pihaknya memandang perlu adanya partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat terutama lingkungan rumah tangga yang memang memberikan kontribusi relatif besar terhadap jumlah timbunan sampah di Kota Bogor.

Partisipasi aktif itu menurut Rafinus, bisa dilakukan dalam bentuk upaya pemilahan sampah anorganik dan sampah organik  atau upaya bersama-sama mendaur ulang sampah anorganik.
Jika kondisi dapat direalisasikan dengan baik Insya Allah, tidak tergantung lagi dengan seberapa luas lahan TPA yang harus disediakan. (yopi/B)

Sumber : Pos Kota 




Comments