Recent site activity

Sampah Plastik? Itu Duit yang Dibuang, Boss!

Membaca tulisan ibu Maria Hardayanto, ada kalimat yang menggelitik yaitu: “sampah plastikbegini gak ada yang mau beli neng, jadi dibuang aja ama emang.”

(Sampah plastik yang dimaksud tukang sampah adalah plastik bekas kemasan yang penuh dengan tulisan dan warna) … baca Bank Sampah, Paradigma Salah Kaprah.

Kenapa?

Ternyata, pengetahuan tentang pengolahan sampah plastik masih belum terekspos ke masyarakat umum. Saya sudah menangani bidang ini dan alhamdulillah memberikan hasil lumayan buat menjaga tungku dapur agar tetap mengepul.

Mau bukti?

Lihat gambar-gambar yang ini …

Tumpukan sampah plastik yang belum dipisah per jenisnya

Siap kirim ke pabrik pengolahan

Sebetulnya, tumpukan sampah plastik di TPA adalah harta karun yang belum diolah.

Ini bisnis real bukan rekayasa.

Salam hijau,

RHRM
sipencari damai


Sampah Plastik? Itu Duit yang Dibuang, Boss! (2)


Ini adalah keterangan tentang artikel Sampah Plastik? Itu Duit yang Dibuang, Boss! yang terburu-buru saya posting.

—–

Setiap daerah hampir dipastikan selalu memiliki masalah yang sama soal penanganan sampah yang dihasilkan oleh warganya. Sampah yang menggunung tentu menimbulkan masalah kesehatan dan kenyamanan baik dari bentuk fisik maupun bau yang ditimbulkan.

Saat ini memang sudah ada pekerja lepas yang akan memiliah dan memilih sampah sesuai dengan jenisnya. Mereka adalah pemulung yang kadang dipandang sebelah mata oleh sebagian dari kita, padahal tanpa disadari para pemulung yang ikut membantu program SAVE THE WORLD secara sukarela tanpa harus digerakkan oleh program-program hebat yang memakan banyak biaya.

Pemulung memilih sampah berdasarkan tingkat laku jualnya di lapak para pengepul sebelum dibawa ke pabrik pengolahan untuk dijadikan barang baru yang layak jual. Umumnya pemulung akan memisahkan sampah an organik seperti besi/logam, kertas, dan plastik.

Jika anda kebetulan tinggal di wilayah Jabodetabek maka anda akan mudah menemukan lapak-lapak di beberapa tempat yang biasanya dimiliki oleh orang Madura dan Sunda. Mereka terkumpul dalam komunitas yang khas dan kompak dalam mengirimkan barang ke pabrik pengolahan.

Bisnis besi/logam biasanya di kuasai oleh orang Madura dan orang Sunda lebih banyak bergerak di limbah kertas dan plastik. Tetapi sebenarnya tidak hanya orang Madura dan Sunda yang ikut meramaikan bisnis GO GREEN ini karena sekarang juga banyak orang Jawa, Batak, Bugis, dll yang mulai tertarik dan menggeluti bidang per-sampah-an ini. (Ini berdasarkan pengalaman pribadi, relasi bisnis saya berasal dari berbagai suku bangsa bahkan ada orang Korea dan India yang datang ke Indonesia untuk berinvestasi di bisnis sampah)

Sampah adalah tumpukan uang yang terbuang di setiap daerah. Asalkan kita jeli maka banyak hasil yang bisa didapatkan dalam bisnis ini.

Kali ini, Saya akan sedikit berbagi tentang sampah plastik yang sulit diurai secara alami.

Secara teori ilmiah, jenis plastik dibedakan menjadi PETE/PET, HDPE, PVC, LDPE, PP, PS dan campuran. Tapi kalau kita bicara dengan nama ini akan menemukan banyak kendala di lapangan. Pemulung di tingkat bawah (biasanya) adalah profesi yang banyak dikerjakan oleh komunitas dengan tingkat pendidikan yang ala kadarnya dan minim. Mereka akan pusing jika harus menghafalkan nama ilmiah plastik seperti itu.

Komunitas pemulung mengenal sampah plastik dalam kategori:

  • Plastik Kerasan
  • Plastik Daun/Lembaran

Plastik Kerasan masih dibagi dalam kategori:

  • Emberan
  • Mainan
  • PVC

Plastik Daun/Lembaran masih dibagi dalam kaegori:

  • PP
  • PE
  • HDPE
  • OPP
  • dll
(Saya susah menyebutkan satu per satu karena banyak jenis dari plastik daun. Apabila anda berminat belajar ya silahkan datang saja ke ahlinya di lokasi terdekat)

Masing-masing jenis plastik mempunyai harga berbeda di tingkat pengepul dan pabrik. Harga plastik ini naik turun (katanya sih) mengikuti kurs dollar dan harga minyak dunia. Jadi sebetulnya perdagangan plastik bersifat global karena boss-boss besar harus rajin mencari informasi dari pasar dunia.

Pemain plastik mayoritas memilih jenis plastik kerasan, sedangkan peluang masih terbuka luas untuk bermain di plastik daun karena tingkat kerumitan yang lebih tinggi. Selain itu pemulung juga malas mengambil plastik daun karena beratnya ringan sehingga mereka akan menemukan kesulitan dalam proses transportasi.

Jika anda tertarik menggeluti bisnis sampah plastik dan anda adalah seorang pemula yang buta terhadap ilmu plastik, saya sarankan anda fokus di sampah plastik daun jenis HDPE.

Kenapa?

Plastik daun HDPE dalam bahasa pemulung biasa disebut ‘ASOY’ dan bahasa masyarakat umum adalah ‘kantong kresek’. Harga sampah ini paling murah diantara yang lain karena ini adalah sampah dari sampah plastik padahal jenis plastik ini yang paling banyak ditemukan di TPA.

Saat ini setiap keluarga pasti membuang kantong kresek setiap harinya dan setiap warung / toko memakai kantong kresek sebagai tempat belanjaan. Maka ini adalah sampah terbesar yang mudah ditemukan.

Anda tidak perlu mencari orang ahli dalam bidang plastik kalau untuk mengelola asoy ini. Anda tinggal instruksikan: ‘Kumpulkan semua jenis kantong kresek, apapun warna dan ukurannya.’

Cukup? Selesai?
Belum. Itu kan instruksi anda ke orang lapangan yaitu komunitas pemulung. Instruksi anda ke tenaga kerja di gudang anda adalah: ‘Pisahkan kamtong kresek menurut warnanya. Hitam, bening dan warna campuran.’

Kenapa?
Karena ada beberapa pabrik menerapkan harga penjualanyang berbeda jika anda ingin menambah keuntungan dari kantong kresek. Harga termurah adalah warna hitam, dikuti warna campuran dan harga termahal adalah warna bening.

Apalagi?


Dalam bisnis plastik daun dikenal type plastik utuhan/gabruk, sobek dan sobek cuci. Ini juga harganya berbeda. Harga termurah adalah plastik utuhan/gabruk yaitu plastik apa adanya dari pemulung langsung dijual ke pabrik, disusul plastik sobek yaitu plastik yang disobek (garing banget ya? hehehe) dan harga termahal adalah plastik yang disobek dan dicuci sebelum dikirim ke pabrik.

Waduh, kok susah ya?
Iya, susah pada awalnya kalau anda belum terbiasa. Nanti naluri bisnis anda akan berjalan sendiri seiring berjalannya waktu.

Asal tau saja, saya belajar ilmu plastik ini dengan dana puluhan juta karena salah beli dan ditipu rekan bisnis. Tapi, inilah proses belajar perlu ada yang dikorbankan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman.

Bagaimana?
Kalau selama ini anda memandang sampah plastik sebagai sampah yang harus cepat-cepat dibuang maka berubahlah menjadi … sampah plastik harus cepat-cepat dikumpulkan karena itu adalah duit yang berceceran dan dibuang di pinggir jalan. (hahaha)

Salam hijau,

RHRM
si pencari damai
pemulung sampah kota

http://duniasithole.wordpress.com/



Comments