Home‎ > ‎Topik‎ > ‎Lingkungan (Environment)‎ > ‎Air (Water)‎ > ‎Air Tanah‎ > ‎Kliping‎ > ‎Kliping Berita / Artikel‎ > ‎

Badan Geologi ESDM Petakan 316 Cekungan Air Tanah

Bandung, (tvOne)

Badan Geologi Kementrian ESDM, hingga saat ini telah memetakan sebanyak 316 cekungan air tanah yang ada di seluruh Indonesia. "Peta cekungan air tanah sudah selesai, di Indonesia terdapat 316 cekungan air tanah. Beberapa diantaranya kondisinya memasuki vase kritis," kata Kepala Badan Geologi Kementrian ESDM, Dr Suchyar di sela-sela Kolokium Badan Geologi di Bandung, Selasa (3/1). 

Suchyar menyebutkan, peta cekungan air tanah itu penting untuk pengembangan kawasan dan tata ruang wilayah. Dengan peta tersebut, maka ketersediaan cadangan air bisa dikontrol. Namun dari 316 lokasi cekungan air tanah itu, kata Suchyar beberapa diantaranya dalam kondisi kritis akibat ekspliotasi terus menerus. "Khususnya di kota-kota besar dan kawasan industri, kuantitas air permukaanya sudah berkurang. Sehingga banyak mengambil air tanah, dan imbasnya persediaan air tanah terus menurun," kata Suchyar. 

Beberapa kawasan cekungan air tanah yang masuk kategori kritis itu antara lain di kawasan DKI Jakarta, Semarang, Surabaya dan Bandung. "Eksploitasi air bawah tanah besar-besaran terjadi di kawasan industri, hal itu memungkinkan terjadi penurunan permukaan tanah. Penempatan sumur resapan untul `recharge` air bawah tanah harus dilakukan di kawasan itu," kata Suchyar. 

Fenomena penurunan permukaan akibat eksploitasi air tanah itu terjadi di DKI Jakarta dan Semarang, antara lain ditandai dengan peristiwa rob air laut. Selain industri, penyebab meningkatnya pengambilan bawah tanah itu juga akibat peningkatan populasi di kawasan itu. "Mereka kesulitan mendapatkan air permukaan, sehingga mengambil dari lapisan air bawah tanah. Fenomena itu sulit dihindari," katanya. 

Kepala Badan Geologi itu menyebutkan, langkah yang harus dilakukan antara lain meningkatkan pembangunan sumur resapan untuk masukan air ke dalam tanah dan menghemat penggunaan air. Sementara itu Kepala Pusat Lingkungan Geologi, Danang Rianto menyebutkan, DKI Jakarta merupakan kawasan yang mengalami kerusakan air tanah terparah. "Penggunaan air tanah di DKI Jakarta mengalami defisit, yakni penggunaan air sebanyak 27 juta meter kubik per tahun. Namun `resharge` atau air pengganti melalui resapan, hanya 17 juta meter kubik," kata Danang. 

Selain itu, penggunaan air di Jakarta juga tidak ideal, karena melebihi 40 persen dari total persediaan air di kawasan itu yang totalnya 40 juta meter kubik. "Idealnya penggunaan air tidak lebih dari 40 persen total persediaan air di kawasan itu," kata Danang menjelaskan. 

Sepertihalnya Suchyar, Danang juga menyebutkan dua langkah untuk mengantisipasi krisis air tanah, yakni mengoptimalkan sumur resapan serta menghemat penggunaan air. (Ant)

Sumber : http://nasional.tvone.co.id/berita/view/32577/2010/02/03/badan_geologi_esdm_petakan_316_cekungan_air_tanah


Comments