Warisi Kami Mata Air Bukan Airmata

Oleh
Aji Setiakarya

Sehari setelah aksi massa yang melibatkan ribuan orang di  tempat pembangunan pabrik air mineral Aqua, di Kampung Sukaraja, Desa
Curugoong Kecamatan Padarincang Kabupaten Serang, Banten pada Minggu (5/12), sebuah pesan singkat dari seorang produser 
stasiun televisi nasional masuk ke handphone saya. Isinya  membuat saya terharu dan begitu simpatik, Warisi Kami Mata  Air Bukan Air Mata, terus berjuang teman, begitulah isi pesan singkat itu. Pesan itu menyiratkan betapa air sangat penting bagi kehidupan umat manusia dan makhluk hidup lainnya.   Manusia membutuhkan  air  untuk minum, pertanian, perkebunan, dan beragam aktivitas untuk kepentingan manusia. Saya dan  juga
mungkin pembaca sepakat bawah  air adalah  sumber kehidupan.  Bayangkan jika di tempat kita  hidup tidak ada yang sumber atau yang
menyuplai air.  Yang ada  hanyalah ketersiksaan dan kepedihan, airmata.
 

Karena itulah  para founding father negeri ini telah merumuskan Undang-Undang Pokok Agraria 1960 Bab I Pasal 1 tentang dasar-dasar dan ketentuan pokok agraria dan Pasal 33 Ayat 3 Undang-Undang Dasar 1945 yang menyatakan bahwa Sumber Daya Agraria merupakan sumber kekayaan alam yang terdiri atas bumi, tanah, air, ruang angkasa serta kekayaan alam yang terkandung di dalamnya (tambang, hutan, air termasuk di dalamnya air tanah, gas alam dll.).  Kekayaan  alam ini sepenuhnya dikuasai oleh Negara untuk kemakmuran rakyat, termasuk juga di dalamnya sumber daya air. Sementara Dalam Undang-undang No 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air (SDA), Pasal 3  menyebutkan bahwa “Sumber daya air dikelola
secara menyeluruh, terpadu, dan berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan kemanfaatan SDA yang berkelanjutan untuk sebesar besarnya kemakmuran rakyat”.

Begitulah Undang-undang 
dan aturan hukum menegaskan. Namun apa  realita di bumi  nusantara tercinta yang subur ini hanya sebuah
kedok. Hukum hanya sebuah omong kosong. Segelintir orang yang mengatasnamakan APBD dan Pendapatan Asli Daerah (PAD) menjual 
kemakmuran negeri kepada swasta atau perusahaan yang hanya menguntungkan perutnya sendiri.  Tak peduli masyarakat
menderita dan menangis. Itulah yang saat ini  dialami oleh warga Kabupaten Sukabumi tepatnya di Kaki Gunung Salak, Gunung
Pangrango yang subur akan air.   

Airmata


Akibat  bencana mata air itu saat  ini terjadi di Kubang Jaya, Babakan Pari, Kabupaten Sukabumi. Mata air di Kubang Jaya telah dieksploitasi habis-habisan oleh Aqua sejak tahun 1992.  Air disana  telah habis disedot oleh PT Tirta Investama yang memproduksi   air mineral Aqua.  Aqua, dengan kekuatan modalnya  boleh  membuat iklan dan membangun  percitraan di layar  televisi dengan berbagai program. Namun toh  fakta berbicara
lain.  Menurut penilitian Yayasan TIFA dan Amrta Institute, saat ini warga  hanya bisa menyesali dan pasrah dengan perusahaan yang menghisap air di tanah leluhur mereka. Dua puluh tahun yang  lalu mereka tidak sadar akan bahaya yang diderita saat ini, yaitu kekeringan dan susahnya mendapatkan air bersih (sumber www.issuu.com). 

Selain itu sekeliling kawasan mata air Kubang Jaya dipagari tembok oleh Aqua-Danone dan dijaga ketat oleh petugas. Tak ada seorang pun yang boleh memasuki kawasan tersebut tanpa surat ijin langsung dari pimpinan kantor pusat Aqua Grup di Jakarta. Berdasarkan cerita beberapa teman
pada awalnya air yang dieksploitasi adalah air permukaan. Namun sejak 1994, eksploitasi jalur air bawah tanah dilakukan menggunakan mesin bor tekanan tinggi. Sejak saat itu kualitas dan kuantitas sumberdaya air di wilayah tersebut menurun drastis. 

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh kedua yayasan tersebut, akibat adanya perusahaan air mineral Aqua, jika sebelum ada perusahaan TI 
masyarakat hanya menggali sumur sedalam 8-10 meter untuk kebutuhan air bersih. Sekarang, warga perlu menggali hingga lebih dari 15-17 meter. Penderitaan warga belum selesai. Saat ini untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari pun  harus membeli air dari tangki air dengan harga mahal. 

Selain di Sukabumi derita warga atas kekeringan juga terjadi  di Polanharjo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Masih berdasrkan penilitian kedua lembaga ini, akibat adanya PT TI  debit air menurun drastis. Petani harus menyewa pompa untuk irigasi. Sumur-sumur warga juga mengering hal ini karena sumur-sumur mereka sudah mengering akibat “pompanisasi” besar-besaran yang dilakukan Aqua-Danone. Air yang dulu melimpah mengairi sawah, kini mulai mengering dan menyusahkan para petani di Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring,
Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah.

Begitulah, fakta yang  terjadi  di daerah  yang telah menjadi mangsa para kolonialis ekonomi.  Dengan dibantu  kekuasaan  dan modal yang super besar, mereka dengan mudah mencengkram wilayah-wilayah yang  subur untuk kepentingan dirinya. 


Perjuangan  Warga Padarincang 


Dengan  alasan  kekeringan itulah,  segenap  warga Padarincang, melakukan penolakan.  Sejak 2008, warga konsisten menolak pembangunan pabrik Aqua ini.  Warga juga berkali-kali melakukan audiensi dengan legeslatif dan eksekutif.  Masyarakat berkali-kali  mengingatkan Bupati untuk tidak membangun pabrik Aqua di wilayah kami.  Karena dengan gejolak itulah  pada 2008 PT Tirta Investama, melakukan calling down.
Namun  diam-diam rupanya perusahaan mencari seribu cara untuk  menarik  simpati masyarakat.  Dengan kekuatan modal, mereka  memecah belah warga, dengan memelihara beberapa orang yang  bisa ditaklukan.  Dengan bantuan  kekuasan,  Aqua telah pura-pura melakukan  aksi sosial di beberapa titik desa.  Seperti di  akui oleh Bupati Taufik Nuriman, perusahaan telah menggulirkan dana 1 Miliar. 

Sebagian warga  menerimanya.  Namun,  berdasarkan wawancara beberapa warga, penerimaan warga  atas bantuan  ini  tidak berarti  persetujuan atas  pembangunan pabrik Aqua.  Namun disebabkan rasa takut dengan kepala desa dan beberapa  tim PT Tirta Investama (TI). Sehingga warga pasrah.  Seperti diketahui sampai saat ini PT Tirta Investama telah menyewa Pam Swakarsa untuk pengamanan asetnya. Sebetulnya ini adalah pelecehan atas korps bhayangkara yang harus menjadi  lini keamanan masyarakat. 

Sekalipun penggembosan dan provokator  dilakukan oleh  PT Tirta Investama, namun mayortitas masyarakat yang menolak masih sabar. Puncaknya adalah pada Minggu (5/12) Siang. Ribuan  warga  yang menolak pembangunan pabrik Aqua yang hendak melakukan do’a bersama di wilayah pembangunan Aqua. Namun  niat tersebut diprovokasi  oleh pihak perusahaan. PT Tirta Investama menggunakan tameng, preman untuk memblokade warga di gerbang masuk pembanguan pabrik Aqua.  Bahkan berdasarkan keterangan warga, ada beberapa preman yang membawa senjata tajam. 
Inilah yang membuat kemudian warga emosi tidak terkendali. Baru setelah sadar ribuan warga datang, pasukan preman ini  menghindar.  Namun emosi warga saat itu tidak terkendali sehingga kericuhan  itu terjadi. Karena itulah, warga sangat marah, saat diantara 
mereka yang ditangkap oleh kepolisian.  Harusnya  yang  ditangkap itu adalah pihak PT TI dan para preman yang telah menjadi  provokator yang menyebabkan kericuhan dan keonaran. 

Penolakan warga atas pembangunan pabrik Aqua, adalah sebuah upaya mempertahankan hak atas air.   Semata-mata untuk keberlanjutan
hidup masyarakat banyak. Karena itulah negara, pemerintah daerah harusnya memihak masyarakat. Bukannya memaksakan kehendak untuk membangun pabrik Aqua atas nama investasi. Masyarakat Padarincang  juga memahami pentingnya investasi. Tapi bukan investasi yang merugikan dan akan menyengsarakan   masyarakat Padarincang dan Serang.  Bukan Investasi yang hanya menciptakan air mata untuk generasi selanjutnya. Sebagai bagian dari masyarakat Padarincang, yang baru menginjak masa dewasa, saya mengetuk kepada Bupati Serang Taufik
Nuriman, Para pejabat dan pemangku kepentingan, mohon warisi kami  mata air bukan airmata.  Dengan mata air yang jernih  itulah kami bisa hidup  dari  tanah yang subur, pohon yang lebat.  Tabik!!


Aji 
Setiakarya, Warga Padarincang

Dimuat
di Radar Banten, 14 Desember 2010



Comments