Pemetaan Mata Air di Kabupaten Belu, NTT

Kondisi geologi dan terbatasnya curah hujan merupakan faktor utama Daerah Kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur sehingga termasuk daerah rawan air bersih. Mata air adalah sumber utama air bersih masyarakat. Dalam rangka konservasi dan mempertahankan kesinambungan sumber daya air telah dilakukan pemetaan terhadap mata air ini. Sejumlah 97 mata air telah dipetakan berdasarkan panduan hasil penafsiran citra landsat. Pengamatan dan pengukuran aspek hidrogeologi, pengukuran sifat fisika dan kimia air serta analisis contoh air di laboratorium juga dilakukan. Kabupaten Belu sebagian besar ditutupi oleh batuan lempung bersisik formasi Bobonaro, dan Formasi lain yang terdiri atas serpih, napal, batu pasir, dan batu gamping. Sejumlah mata air yang muncul menunjukkan keterkaitan yang konsisten dengan struktur geologi seperti pola kelurusan dan pola lainnya yang muncul di daerah penelitian. Peta Curah Hujan Tahunan (1993 - 2003) memperlihatkan bahwa curah hujan di selatan Kabupaten Belu sekitar 1500 mm dan makin tinggi ke arah utara mencapai sekitar 2.500 mm. Kisaran intensitas curah hujan ini termasuk sedang. Dengan demikian, kondisi geologi lebih banyak berperan dalam mengontrol potensi air di daerah Kabupaten Belu. Sebaran mata air lebih banyak ditemukan pada daerah batu gamping (satuan batu gamping Koral. Ql) di bagian Timur Laut dan selatan daerah telitian. Karakteristik utama satuan ini berkaitan dengan banyaknya rongga hasil pelarutan (secondary porosity) terutama pada batu gamping terumbu. Bagian dasar dari sistem akuifer berupa lapisan lempung Formasi Bobonaro yang bertindak sebagai lapisan kedap ataupun lapisan napal pasiran Formasi Noele. Mata air jenis ini umumnya memiliki potensi besar yang dapat dipakai sebagai sumber air bersih penduduk, pengairan maupun industri air minum. Beberapa di antaranya seperti mata air Lahurus, Wetihu, Webot dan Wehalek di Tasifeto Timur mempunyai tuah lebih dari 40 l/det dapat dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik mikrohidro. Selain keluar dari kontak bidang perlapisan/bidang formasi, mata air di daerah ini juga diduga dikontrol oleh sesar. Jejak-jejak patahan teramati dengan jelas pada citra landsat berupa kelurusan (lineament). Sering kali mata air berjajar membentuk garis lurus yang berada di zona patahan yang merupakan daerah lemah sehingga air hujan yang jatuh di permukaan akan diteruskan melalui rekahan dan keluar sebagai mata air. Hasil analisis kimia air memperlihatkan sumber daya air di Kabupaten Belu secara umum memenuhi syarat baku mutu air bersih. Parameter air yang sedikit tinggi adalah nilai kesadahan namun belum melampaui nilai ambang batas.



Comments