Ada Apa dengan Ciliwung ?!!

Oleh : Ir. Pitoyo Subandrio, Dipl.HE

Ciliwung merupakan sungai utama dan sangat berpengaruh terhadap kehidupan
penduduk Jakarta. Alirannya melintas tepat di jantung kota Jakarta. Ciliwung adalah
sungai purba terbentuk bersamaan dengan alam dataran rendah Jakarta sekitar 5000
tahun silam. Sejak dulu manusia tinggal di sepanjang Ciliwung dan menjadikan
sumber kehidupan, seperti irigasi, tangkapan ikan, air minum dan kebutuhan seharihari,
sarana transportasi dan sebagainya, tingginya tingkat ketregantungan manusia
pada Ciliwung, hingga Ciliwung dihargai dan dijaga kelestariannya.

Seiring dengan jalannya waktu penduduk yang bermukim dan berusaha di
sepanjang Ciliwung terus bertambah hingga melampaui ambang batas. Alasan orang
tinggal di Ciliwung tidak lagi membutuhkan air dan alirannya, tetapi mereka
menganggap kawasan yang mudah dicapai (dekat dengan tempat mencari nafkah),
dan murah, kita lihat sampai saat ini okupasi lahan dari tepian hingga badan Kali
Ciliwung.

Sejak Indonesia merdeka terjadi alih fungsi lahan, villa-villa dibangun dengan
membabat hutan di kawasan Puncak (Bogor). Hal ini terus berjalan, diisusul Depok,
Real Estate atau pemukiman berkembang dengan pesat karena urbanisasi dan
pertambahan jumlah penduduk. Industri dan lapangan golf berlomba dengan
perumahan, yang semuanya di bangun dengan membabat hutan. Kawasan Puncak
telah berubah menjadi kota. Situ-Situ lenyap dan berubah menjadi pemukiman, air
hujan tidak bisa tertampung lagi. Kondisi seperti tersebut menyebabkan air hujan tidak
dapat lagi di simpan tetapi sebagian besar menjadi aliran-aliran permukaan (hanya
sedikit yang menyerap ke dalam tanah) dan masuk ke Ciliwung. Debit banjir Ciliwung
meningkat secara drastis,Ciliwung sudah bukan sungai lagi tetapi sudah berfungsi
sebagai saluran air hujan berkombinasi sebagai saluran air limbah. Secara grafitasi air
banjir ini akan masuk Jakarta yang diperparah dengan memperlakukan Ciliwung
sebagai tempat pembuangan sampah baik padat maupun cair, di tambah pemukiman
illegal terutama di ruas antara jembatan Kp.Melayu (JL.Casablanca sampai dengan
Pintu Air Manggarai). Mereka bermukim di bantaran bahkan di badan sungai yang
jumlahnya sekitar 71.000 KK atau 350.000 jiwa, Ciliwung teraniaya secara sistematis.

Sebagai bandingan pada tahun 1920 Belanda mengantisipasi pembukaan kebun
teh (membabat hutan karet) dengan membangun Banjir Kanal (Barat) untuk
menyalurkan puncak banjir ke kanal tersebut. Debit kali diatur melalui Pintu Air
Manggarai,debit normal tetap di alirkan ke Ciliwung lama agar tetap dapat dilayari
sekalian menggelontor air limbah Batavia. Kali Ciliwung di hulu Pintu Air Manggarai di
gunakan sebagai ”long storage” untuk menyimpan air baku penggelontor di musim
kemarau.

Secara umum kejadian di Jakarta yang berpengaruh terhadap Ciliwung adalah :

  1. Drainase kota yang buruk ditambah sampah padat dan limbah cair.
  2. Amblesan tanah, terutama di Jakarta Utara ( Muara Ciliwung),terjadi karena explorasi air tanah yang berlebihan.
  3. Permukiman yang tidak terkontrol, penegakan hukum yang lemah dan tidak di patuhinya tata ruang,hal ini sangat mempengaruhi resiko banjir.
Ciliwung telah terganggu keseimbangannya dan tidak mungkin kita kembali ke
keseimbangan awal atau semula. Diperlukan keseimbangan yang baru. Ciliwung
harus ditangani secara menyeluruh (komprehensif dan integral). Dari hulu sampai ke
hilir atau muara, tidak hanya alur sungainya, tetapi juga ”catchment area” atau daerah
tangkapan airnya, termasuk perilaku manusia yang tinggal di wilayah tersebut.
Penanganan secara struktural saja ( pembangunan BKT, revitalisasi BKB,
pembangunan waduk di hulu, revitalisasi Situ-Situ, pembangunan polder dan pompa
air dan sebagainya) tidak cukup. Penanganan non struktural harus dilaksanakan dan
ini diterapkan oleh seluruh negara di dunia dengan kondisi yang sama di banding
Jakarta, yang terpenting adalah memperbaiki kerja sama atau kolaborasi di antara
instansi-instansi pemerintah untuk menemukan solusi bersama dan mengintegrasikan
action plan mereka. Semua pemangku kepentingan perlu memainkan peranannya
untuk memberikan kontribusi pada solusi secara menyeluruh.

Penanganan atau upaya non struktural antara lain meliputi kegiatan :

Menyamakan persepsi antara masyarakat, pemerintah dan swasta tentang
banjir, kita tidak akan pernah bebas banjir secara mutlak dan banjir selalu dapat
dikendalikan.

  1. Pengelolaan dataran banjir ( Flood Plain Management), kawasan dataran banjir boleh dimiliki, tetapi diatur penggunaannya.
  2. Flood Proofing ( meninggikan lantai dasar bangunan sampai pada elevasi tertentu) terhadap bangunan publik. Misalnya rumah sakit, panti jompo, sekolah dan sebagainya.
  3. Mentaati tata ruang dan tata guna lahan.
  4. Pengelolaan sampah yang baik.
  5. Informasi publik dan penyuluhan tentang prakiraan banjir, peringatan dini dan banjir.
  6. Reboisasi dan pembangunan sumur serapan.
  7. Pemindahan atau relokasi pemukiman di bantaran dan badan sungai.
  8. Pengentasan kemiskinan dan penegakan hukum.
Apabila penanganan struktural dan struktural telah dilaksanakan secara signifikan
dan konsisten, maka keseimbangan yang baru Ciliwung akan terwujud. Sudah
seharusnya kita hidup harmoni dengan air, hidup harmoni dengan Ciliwung.
Sayangi Ciliwung seperti kita menyayangi kekasih.


Comments