Home‎ > ‎Topik‎ > ‎RT/RW Siaga‎ > ‎Referensi‎ > ‎Kliping Artikel‎ > ‎

Setahun Deklarasi RW Siaga: Apa Hasilnya..?

Oleh: H.S. Pramono Budi
(Dimuat diharian Monitor Depok tanggal 14 November 2008)


Masih ingat bocah Aco yang meninggal di Makassar karena kelaparan? Atau masih ingat Wahyu Saputra (6), bocah Gang Nyamuk Cagar Alam? Saat Idhul Fitri (2008) dia tewas akibat gizi buruk (Monde, 7/9/08). Segera saja media menuduh, apa saja peran RW Siaga?. Hal itu bisa dipahami, karena pengurus RW dan RT lah yang paling tahu kondisi warganya. Kejadian itu menggambarkan, betapa pentingnya meningkatkan kapasitas relawan RW Siaga ditingkat lapangan. 

Pada era Orba, waktu Rudini menjadi Menteri Dalam Negeri, kita pernah punya program Dasa Wisma. Para kadernya secara intensif, dari pintu kepintu mendata penduduk yang punya bayi belum diimunisasi dan lain-lain. Sekaligus mendata untuk kepentingan Partai berkuasa saat itu. Hasilnya memang efektif. Program imunisasi sukses, program KB sukses (bahkan dapat penghargaan), dan Golkar juga kian kuat. 

Tampaknya sederhana. Tapi jika dioptimalkan, aktivitas RW Siaga saat ini bisa mendorong mereduksi permasalahan yang dihadapi kelompok akar rumput. Merujuk kesepakatan Millenium Development Goals (MDGs) dan hasil KTT ASEM (Asian Euopa Meeting) tanggal 24-25 Oktober di Beijing, ada tiga masalah utama yang relevan di Indonesia, khususnya di Depok. Ketiga hal tersebut diantaranya: kemiskinan, kesehatan, dan lingkungan hidup. Depok sebagai bagian dari warga kota di Asia sangat berkepentingan dengan ketiga hal tersebut. Karena hal itu bagian dari program pembangunan yang berkelanjutan. 

Sebagaimana diketahui, untuk menentukan bahwa RW Siaga masuk kualifikasi baik (pratama, madya, dan purnama) ada 8 indikator, yaitu: 

  1. Ada forum masyarakat sebagai wadah mendiskusikan masalah kesehatan
  2. Kerjasama dengan fasilitas kesehatan dan pelayanan dasar
  3. Upaya kesehatan berbasis masyarakat (UKBM) 
  4. Bersifat pengamatan terhadap gejala wabah penyakit
  5. Kegawat daruratan dan bencana, 
  6. Lingkungan sehat dengan membiasakan gerakan kebersihan
  7. PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat) – lingkungan hidup punya pengaruh 45% terhadap kesehatan, 30% dari perilaku, dan pelayanan kesehatan 20%, dan 
  8. Kadarsi (keluarga sadar gizi).


Berdasarkan hasil survey yang dilaksanakan LKPD bersama Depok Post (November 2008), sebagian besar masyarakat (73%) sudah tahu tentang program ini. Tetapi yang merasakan manfaat dari RW Siaga 35 %, sisanya (65%) tidak. Dalam hal kemanfaatan, didapat data sebagai berikut: sangat bermanfaat (10%), bermanfaat (35%), tidak tahu (35%), biasa saja (18%), dan kurang bermanfaat (1%).

Dengan menyimak data di atas, banyak hal yang harus dilakukan untuk mengoptimalkan RW Siaga. Berdasarkan pantauan di lapangan, permasalahan RW Siaga yaitu: Kurangnya kesadaran warga masyarakat terhadap persoalan sekitarnya. Ini juga diakui para pegiat dilapangan. Barangkali permasalahan ekonomi, seperti kenaikan harga-harga, sebagai salah satu penyebabnya. Dalam suasana hidup cenderung miskin, masyarakat sibuk dengan dirinya sendiri. Sosialisasi juga dirasakan masih kurang. Sehingga wajar jika walaupun masyarakat tahu tentang RW Siaga (73%), yang merasakan manfaat maupun yang sama sekali tidak tahu mencapai 35%.


Masih banyak hal untuk membenahi RW Siaga. Para pegiat misalnya mengusulkan agar ditingkatkan penguatan kapasitas kader lapangan berupa latihan-latihan. Ada pula yang mengusulkan supaya dana Raskin dikelola secara dana bergulir (revolving fund). Ada baiknya mengkaji pengalaman Kabupaten Bekasi. Awal tahun 2000-an pernah melakukan program Revitalisasi Posyandu melalui dana bergulir pola Grameen Bank, bekerjasama dengan LSM Bismi. Ide dasarnya, bagaimana agar dana habis pakai untuk kegiatan Posyandu bisa lebih berkelanjutan. Ternyata, kader-kader Posyandu yang mempunyai insting bisnis dapat memanfaatkan dana itu untuk usaha bersama. Keuntungan dari usaha itu kemudian dibelikan susu, obat-obatan, dan makanan bergizi lainnya. Sehingga, dana yang seharusnya habis terpakai dalam tahun anggaran itu dapat bertahan lebih lama dan aktivitas Posyandu kian meningkat pula.

Dalam hal program kerja, perlu juga meningkatkan pencegahan penyakit melalui penggunaan obat-obatan herbal. Semua orang tahu, bahwa obat-obatan kimia mempunyai efek residual yang dapat merusak organ tubuh. Sehingga, tanpa disadari mereka yang berobat menggunakan bahan kimia cenderung rentan terhadap penyakit. Saat ini di Kota Depok sudah berkembang pengobatan yang dikenal sebagai Thibbun Nabawi (pengobatan cara nabi). Dengan obat yang murah dan mudah didapat, diantaranya jintan hitam (habba sauda) dan bekam, ternyata sangat efektif meningkatkan kekebalan tubuh. Karena itu ada baiknya program pengobatan herba ini menjadi bagian dari kegiatan RW Siaga.


Sejak RW Siaga dideklarasikan di Depok (13/11/2007), hingga saat ini sudah ada 829 RW Siaga. Saat itu, Menteri Kesehatan Siti Fadhillah Supari mengatakan: “ Kota Depok saat ini telah berkembang menjadi kota sehat, dan menjadi kota dengan angka kematian bayi terendah di Indonesia, yakni rata-rata 3,9 per 1.000 kelahiran hidup.” Padahal secara nasional angka kematian bayi masih sekitar 30 per 1.000 kelahiran hidup. Demikian pula, kematian ibu di Depok adalah 68 per 100.000 kelahiran hidup. Sementara itu ditingkat nasional angka kematian ibu melahirkan di atas 300 per 100.000 kelahiran hidup.


Fakta itu semakin membuat kita optimis, bahwa RW Siaga di Kota Depok sesungguhnya masih dapat dioptimalkan. Hal itu sesuai dengan harapan Walikota Depok Nurmahmudi Ismail pada saat Deklarasi RW Siaga. Deklarasi RW Siaga diharapkan dapat mendorong upaya mencapai target angka IPM 80 Kota Depok pada tahun 2010. Seperti diketahui, saat ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kota Depok adalah 77,81. Angka tersebut sudah merupakan angka IPM tertinggi untuk tingkat Jawa Barat. Tetapi secara nasional, IPM tertinggi dicapai masing-masing oleh DKI Jakarta, DIY, dan Depok (ketiga).


Bulan ini tepat setahun sejak RW Siaga dideklarasikan. Sejauhmana pencapaian RW Siaga sudah dibuktikan?. Berbekal dengan 8 (delapan) indikator keberhasilan RW Siaga tersebut, maka ada baiknya saat ini para pegiat RW Siaga melakukan kajian ulang. Agar kemanfaatan adanya RW Siaga benar-benar dirasakan masyarakat kelas bawah. Apalagi saat ini, ketika perekonomian belum membaik, dan perubahan iklim makin terasa. Dampak perubahan iklim akibat pemanasan global diantaranya makin meningkatnya aktivitas penyakit, terutama malaria. Selain itu, bagi masyakarat yang kekurangan makanan bergizi, maka akan menyebabkan rentannya ketahanan tubuh. Akibatnya, masyarakat miskin semakin terpuruk. Sudahlah menderita karena miskin, terkena penyakit pula. Jika hal itu terjadi, maka harapan Walikota untuk mencapai angka IPM 80 bakal terhambat. Karena itu, hanya satu kata: Secepatnya, kita semua bertindak!! (Penulis adalah Peneliti pada Lembaga Kajian Pembangunan Daerah – LKPD, Kota Depok).  

Sumber : http://hasprabu.blogspot.com/2008/11/setahun-rw-siaga.html

Comments